Inilah Alasan Tingginya Angka Kematian Covid-19 di Indonesia

Inilah Alasan Tingginya Angka Kematian Covid-19 di Indonesia

Tiga Warga Tanimbar Positif Virus Corona - Kabartimurnews.com

Inilah Alasan Tingginya Angka Kematian Covid-19 di Indonesia – Penyakit virus corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini di temukan. Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama di transmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang di hasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas.

Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad mengatakan, pemerintah perlu evaluasi manajemen pengendalian pandemik, terutama terhadap kasus kematian akibat COVID-19 di Tanah Air.

Hal ini disebabkan karena persentase kematian akibat COVID-19 di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

“Perlu evaluasi case manajemen, bottle neck-nya ada di mana?” ujarnya dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa (18/5/2021).

Menurutnya evaluasi tersebut di harapkan dapat segera di ketahui faktor mana saja yang berkontribusi besar terhadap angka kematian akibat COVID-19. Sehingga dapat di lakukan perbaikan secara efektif terhadap faktor penyumbang penyebab kematian akibat COVID-19.

1. Pasien COVID-19 dari kalangan ekonomi menengah ke bawah sulit dapatkan layanan

Berdasarkan data yang di himpun Satgas COVID-19, pada 15 Mei 2021 angka kematian akibat COVID-19 di Tanah Air sebesar 2,76 persen, yang meningkat dari sebelumnya per Februari 2021 sebesar 2,75 persen.

Sementara, persentase kasus angka kematian akibat COVID-19 di dunia sebesar 2,07 persen. Riris mengatakan penyebab pasti kematian akibat COVID-19 tidak bisa di ketahui tanpa adanya audit kematian.

Sebab, banyak faktor yang bisa memengaruhi hal tersebut, salah satunya terkait akses layanan kesehatan. Lalu, terkait bagaimana layanan kesehatan mampu mengelola kasus yang ada secara kuat dan bermutu.

“Sekarang titik letaknya ada di mana? Bisa saja, misalnya terkait akses di mana pasien COVID-19 berat berasal dari sosial ekonomi menengah ke bawah, dan akses mendapatkan layanan kesehatan lebih sulit, sehingga sampai ke layanan kesehatan lambat, sehingga kemungkinan terjadi kematian sangat besar,” ujarnya.

2. Layanan terhadap pasien COVID-19 berat berjalan lambat

Selain itu, juga terkait dengan sistem rujukan. Meskipun saat ini telah ada sistem rujukan, Riris mengatakan, sistem yang ada belum di kondisikan pada situasi pandemik saat ini yang membutuhkan kecepatan penanganan.

Karena tidak adanya sistem rujukan cepat, kata dia, menjadikan layanan terhadap pasien COVID-19 berat berjalan lambat, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kematian.

“Lalu, faktor lain adanya varian baru COVID-19 yang di kabarkan memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Namun, ini semua hipotetikal, mana yang memengaruhi secara riil di lapangan belum di ketahui secara pasti,” terang Riris.

3. Lakukan 5 M dengan benar

Untuk menekan angka kasus kematian akibat COVID-19, menurut Riris, tidak cukup hanya di lakukan pemerintah dengan mengevaluasi manajemen kasus terhadap kematian akibat virus corona di Tanah Air.

Masyarakat, sambung Riris, juga di harapkan dapat mengambil bagian dengan displin menjalankan protokol kesehatan, serta mematuhi 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Masyarakat harus tetap menjalankan prokes, 5M, yang menjadi senjata unggulan untuk mencegah COVID-19,” tegasnya.