Deretan Fakta yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Gangguan Delusi

Deretan Fakta yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Gangguan Delusi

Jenis Gangguan Delusi dan Pilihan Pengobatannya | Lifepack.id

Deretan Fakta yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Gangguan Delusi – Delusi adalah salah satu jenis gangguan mental serius yang di kenal dengan istilah psikosis. Psikosis di tandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan realitas yang sebenarnya. Orang yang mengalami delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.

Penderita gangguan delusi meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah terbukti bahwa apa yang di yakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya.

Gangguan delusi mengacu pada kondisi seseorang menampilkan satu atau lebih bentuk khayalan dalam kurun satu bulan atau lebih. Delusi di anggap aneh ketika gejala yang di tunjukkan terkesan tidak masuk akal. Contohnya adalah khayalan bahwa organ tubuh orang yang bersangkutan telah di ganti dengan organ tubuh orang lain tanpa meninggalkan luka.

Gangguan delusi berbeda dengan skizofrenia. Seseorang dengan indikasi skizofrenia tidak bisa di diagnosis mengalami gangguan delusi. Delusi sendiri tampaknya dapat di percaya pada kasus yang sederhana, sementara orang tersebut mungkin tampak normal dalam kesehariannya.

Di rangkum berbagai sumber, berikut ini fakta-fakta yang perlu di ketahui seputar gangguan delusi dari perspektif medis.

1. Apa itu gangguan delusi?
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Gangguan delusi di golongkan sebagai gangguan psikotik, di mana seseorang sulit mengenali antara dunia khayal dan dunia nyata. Secara umum, delusi dapat di definisikan sebagai keyakinan yang di dasarkan pada interpretasi yang salah mengenai realitas.

Seseorang dengan kondisi ini memegang keyakinan yang salah, meskipun ada bukti yang jelas menentangnya. Delusi bisa melibatkan keadaan yang dapat terjadi dalam kenyataan meskipun persentasenya kecil. Misalnya, delusi mengenai rencana pembunuhan yang akan di lakukan oleh tetangga, padahal faktanya tidak demikan.

2. Jenis gangguan delusi
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Jenis gangguan delusi meliputi:

  • Erotomanic: keyakinan bahwa seseorang (biasanya dari status sosial yang lebih tinggi) menaruh hati dan jatuh jatuh cinta pada individu yang mengalami erotomanic
  • Grandiose: keyakinan memiliki bakat atau wawasan yang hebat tetapi tidak diakui (terkait identitas khusus, pengetahuan, kekuatan, harga diri, atau hubungan dengan seseorang yang terkenal dan/atau dengan Tuhan)
  • Jealous: keyakinan terhadap ketidaksetiaan pasangan
  • Persecutory: keyakinan merasa ditipu, dimata-matai, dibius, diikuti, difitnah, atau bahkan dianiaya orang lain
  • Somatic: keyakinan mengalami sensasi fisik atau disfungsi tubuh (misalnya merasakan bau busuk atau serangga merayap di area kulit)
  • Mixed: waham yang dicirikan oleh lebih dari satu jenis gangguan delusi, tetapi tidak ada yang mendominasi
  • Unspecified: waham yang tidak termasuk dalam jenis gangguan delusi dan tidak dapat ditentukan dengan jelas

Jenis gangguan delusi yang paling sering adalah persecutory. Kendati demikian, kondisi ini jarang terjadi dan diperkiraan hanya 0,2 persen orang yang mengalaminya di beberapa titik dalam kehidupan.

3. Gejala gangguan delusi
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Delusi sering berpusat pada interpretasi yang tidak akurat dari realitas kehidupan. Orang dengan gangguan delusi biasanya tidak dapat menerima bahwa delusi mereka tidak rasional atau tidak akurat. Adapun gejala gangguan delusi yang ditunjukkan meliputi:

  • Delusi non-bizarre yang bisa terjadi dalam dunia nyata (ini adalah gejala yang paling jelas)
  • Mudah tersinggung
  • Mudah marah
  • Suasana hati buruk
  • Halusinasi (melihat, mendengar, atau merasakan) yang berhubungan dengan waham
4. Penyebab gangguan delusi
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Penyebab utama gangguan delusi belum bisa di tetapkan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi berbagai faktor biologis, seperti kondisi medis, kondisi neurologis, serta penggunaan zat. Hal ini juga menunjukkan bahwa hipersensitivitas dan mekanisme pertahanan ego (reaksi, proyeksi, dan penolakan) mungkin terkait dengan gangguan delusi. Paparan trauma dapat di kaitkan dengan perkembangan episode psikotik.

5. Diagnosis gangguan delusi
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Untuk melakukan di agnosis dokter akan melakukan pemeriksaan riwayat kesehatan lengkap dan pemeriksaan fisik. Dokter mungkin juga akan menggunakan berbagai tes di agnostik, salah satunya tes darah untuk mengesampingkan berbagai kemungkinan penyakit fisik. Dokter bisa memberi rujukan ke ahli kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog dengan berpedoman pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang di terbitkan oleh American Psychiatric Association, untuk memastikan gejala gangguan delusi dan menegakkan diagnostik.

6. Pengobatan dan perawatan gangguan delusi
Gangguan Delusi, Kondisi Mental yang Bikin Seseorang Terus Berkhayal

Terapi merupakan perawatan utama yang di terapkan guna membantu manajemen gangguan delusi. Beberapa manfaat yang di peroleh dari penerapan terapi di antaranya adalah:

  • Perawatan psikososial: membantu meminimalkan masalah perilaku dan psikologis yang terkait dengan gangguan delusi melalui aktivitas mengontrol gejala, mengidentifikasi tanda kekambuhan, serta menyusun rencana pencegahan kekambuhan
  • Psikoterapi individu: membantu pasien mengenali dan memperbaiki pemikiran dasar yang menyimpang
  • Terapi perilaku kognitif (CBT): membantu pasien belajar mengenali dan mengubah pola pikir dan perilaku yang mengarah pada perasaan bermasalah
  • Terapi keluarga: membantu keluarga menangani anggota keluarga lain yang mengalami gangguan delusi secara lebih efektif

Sementara itu, opsi pengobatan yang mungkin juga akan digunakan untuk mengobati terdiri dari:

  • Antipsikotik konvensional (neuroleptik): termasuk klorpromasin, flufenazin, dan haloperidol
  • Antipsikotik atipikal: termasuk risperidone, clozapine, dan quetiapine
  • Obat penenang dan antidepresan: obat penenang digunakan jika pasien memiliki tingkat kecemasan yang sangat tinggi dan/atau masalah tidur. Sementara antidepresan digunakan untuk mengobati depresi yang sering terjadi pada orang dengan gangguan delusi.

Gangguan delusi mengarah pada gangguan mental yang menyebabkan seseorang mengalami pikiran delusi (tidak berdasar realitas). Orang dengan gangguan ini mungkin akan mengembangkan depresi, perasaan terasing dari lingkungan, serta melakukan tindakan kekerasan atau melanggar hukum. Meski tergolong jarang, tapi bukan berarti delusi boleh di abaikan.